TRIBUN-MEDAN.com, BALIGE – Sosok Abdon Nababan dikenal sebagai aktivis yang bergerak di bidang sosial. Pria ini lahir di Huta Pealangge, Siborongborong, Humbang Hasundutan pada tanggal 2 April 1964.
Pendudikan dasar, ia dapatkan di SDN Paniaran, Kecamatan Siborong-borong, Kabupaten Humbang Hasundutan lalu melanjutkan ke SMP RK St. Yosef di Lintong ni Huta, Kabupaten Tapanuli Utara.
Selanjutnya, ia mengecap pendidikan di SMA RK Budi Mulia di Pematang Siantar dan SMAN II Jakarta. Lalu, ia melanjutkan pendidikan di Sarjana Peternakan dari Institut Pertanian Bogor (IPB) lulus tahun 1987
Pascakuliah, ia terpilih menjadi Koordinator Program Pendidikan Lingkungan Hidup ”Lintas Alam Ciapus” kerjasama Yayasan Indonesia Hijau (YIH) dan Lawalata IPB 1984-1986.
Ia juga sebagai anggota Perhimpunan Mahasiswa Katolik RepubIik Indonesia (PMKRI) Bogor sejak 1982 dan Anggota Perkumpulan Mahasiswa Pencinta Alam (LAWALATA) IPB Bogor sejak 1982 dan pernah menjabat sebagai Pelaksana Tugas Ketua 1985 hingga 1986.
Darah aktivisnya pun terus lestari, itu terbukti ia dipilih sebagai Penyelenggara Kongres Masyarakat Adat Nusantara (KMAN): Wakil Ketua Pelaksana di KMAN I 1999, Ketua Panitia Pelaksana di KMAN II 2003, Ketua Panitia Pengarah di KMAN III, Penanggung-jawab di KMAN IV 2007 dan KMAN V 2017.
Selain sebagai Staff Pengelola di Yayasan Mojopahit Mojokerto 1988-1989, ia juga sebagai Koordinator Kelompok Kerja Riset dan Advokasi Kebijakan Kehutanan di Wahana Lingkungan Hidup Indonesia (WALHI) merangkap Pimpinan Proyek Peningkatan Kapasitas ORNOP Indonesia di bidang Investigasi dan Kampanye Hutan, kerjasama program Greenpeace International-WALHI tahun 1990 hingga 1993.
Pada tahun 1993 hingga 1996, ia menjadik Pendiri dan Direktur Program Riset dan Dukungan Komunitas di Yayasan SEJATI lalu terpilih sebagai Direktur Eksekutif di Yayasan Telapak Indonesia (TELAPAK) tahun 1996 hingga 1998.
Ia sebagai pendiri dan Direktur di Forest Watch Indonesia (FWI) 1998–2000 yang kemudian menjadi Sekretaris Pelaksana/Chief Operation Officer di AMAN 1999-2003.
Ketua Umum di Perkumpulan Telapak 2004–2006. Pendiri dan Direktur Utama di PT. Poros Nusantara Utama (PNU) 2006-2007
Pria sebagai penasehat di Samdhana Instirute 2018 hingga sekarang ini, ternyata pernah menjadi Sekretaris Jenderal/Chief Executive Officer di Aliansi Masyarakat Adat Nusantara (AMAN) 2007–2012 dan 2012-2017.
Ia juga memiliki keterlibatan pada gerakan sosial kemasyarakatan di level nasional.
Ia paparkan beberapa kegiatan yang memperlihatkan keterlibatannya pada gerakan sosial kemasyarakatan tersebut.
– Dewan AMAN Nasional (DAMANNAS) mewakili Region Sumatera dan Wakil Ketua 2017-2021, Ketua 2021—sekarang
– Dewan Pimpinan Nasional (DPN) Barisan Pemuda Adat Nusantara, Ketua 2009-2016, Ketua Dewan Pembina 2016-2017
– Persekutuan Perempuan Adat Nusantara (PEREMPUAN AMAN), Pemrakarsa 2012
– Badan Perjuangan Rakyat Penunggu Indonesia (BPRPI), Dewan Penasehat 2013-2019
– Koalisi Nasional Pembaruan Agraria (KNPA), Komite Pengarah 2015-2017
– Konfederasi Pergerakan Rakyat Indonesia (KPRI), Anggota Majelis Pengarah 2016-sekarang
– Majelis Perwalian Anggota Lembaga Ekolabel Indonesia (MPA-LEI), Anggota 2007-2010
– Ketua Dewan Pembina Yayasan Setara/NTFP, 2003-2013
– Forest Watch Indonesia (FWI), Ketua Badan Pengurus 2001-2007
– Ketua Dewan Penyantun Jaringan Kerja Pemetaan Partisipatif (JKPP), 2000-2010
– Ketua Dewan Penyantun Badan Registrasi Wilayah Adat (BRWA), 2010-2018
– Ketua Dewan Pengawas Koperasi Produsen AMAN Mandiri (KPAM), 2014-sekarang
– Pengawas Credit Union (CU) RANDU, 2015-sekarang
– Pemrakarsa dan Pendiri Forest Watch Indonesia (FWI) Bogor, 1998
– Pendiri Perkumpulan Telapak Bogor, 2000
– Koordinator Komite Pengarah pada Jaringan Pembelaan Hak-Hak Masyarakat Adat (Indonesian NGOs Network for Indigenous Rights Advocacy, JAPHAMA) 1996-1998
– Pendiri Yayasan Sejati Jakarta, 1983
Lalu, ia mengutarakan perihal keterlibatan dalam reformasi politik, hukum dan pemerintahan.
– Anggota Panel Ahli KPK dalam pelaksanaan Nota Kesepahaman Bersama (NKB) 12 Kementerian / Lembaga Non-Kementerian untuk percepatan pengukuhan kawasan hutan.
– Anggota Panitia Pengarah Tim Penanganan Pengaduan Kasus Lingkungan Hidup dan Kehutanan Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK).
– Anggota Forum Pakar Pemberdayaan Komunitas Adat Terpencil (KAT) Kementerian Sosial.
– Anggota Kelompok Ahli Bidang Humaniora Badan Restorasi Gambut (BRG)
– Pemohon uji materi UU No. 41/1999 tentang Kehutanan mewakili AMAN di Mahkamah Konstitusi yang menghasilkan Putusan Mahkamah Konstitusi No. 35/PUU-X/2012 yang dibacakan pada tanggal 16 Mei 2013 yang putusannya menyatakan bahwa “Hutan Adat Bukan Hutan Negara”.
– Saksi ahli dalam persidangan uji materi UU tentang Sumberdaya Air dan UU tentang Pengelolaan Pesisi dan Pulau-Pulau Kecil di Mahkamah Konstitusi (MK)
– Perumus dan Narasumber dalam penyusunan beragam Naskah Akademik dan Rancangan UU yang terkait dengan lingkungan hidup, agraria, pengelolaan sumberdaya alam dan hak-hak masyarakat adat di tingkat nasional dan Peraturan Daerah di tingkat Provinsi dan Kabupaten
Riwayat Keterlibatan dalam Advokasi Kebijakan dan Pendanaan di Tingkat Internasional
– Anggota Dewan Direktur Architecture REDD+ Transaction (ART) yang berbasis di Washington DC 2019-2021
– Anggota Dewan Direktur Tenure Facility yang berbasis di Stockholm, 2016-sekarang
– Anggota Komite Pengarah Global Tropical Forest Alliance (TFA) 2020, berafiliasi dengan World Economic Forum (WEF) berbasis di Jenewa, Swis, 2015-2018
– Anggota Komite Pengarah Nasional dan Komite Penilai Proposal pada Global Environmental Facility – Small Grant Program (GEF-SGP), 1998-200
– Anggota Komite Pelaksana Global Forest Watch (GFW) berbasis di Washington, D.C., 2000-2001
– Anggota Komite Pengarah untuk Indonesia’s Multi-stakeholders Forestry Programme – DFID-Departemen Kehutanan.
– Anggota Panel Ahli UNDP bidang Keahlian Masyarakat Adat/Lokal dalam penyusunan Indeks Tata Kelola Hutan dan Gambut.
– Juru bicara dan negosiator mewakili masyarakat adat sedunia dan Asia dalam berberbagai arena advokasi dan perundingan internasional di forum-forum PBB dan lembaga kredit Bank Dunia.
Dosen tamu
– Program Studi Lingkungan Paska Sarjana Universitas Indonesia
– Fakultas Hukum Universitas Jember
– Fakultas Ekologi Manusia Institut Pertanian Bogor
– Program Studi Hubungan Internasional, Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIPOL) Universitas Indonesia
Lalu, ia ternyata menjadi pembicara di berbagai konferensi, juru bicara dan negosiator mewakili gerakan lingkungan dan gerakan masyarakat adat dalam perundingan dan perumusan kebijakan di tingkat nasional dan internasional.
Selain itu, ia juga aktif menulis buku. Ada beberapa buku yang ia tulis, antara lain:
– Lipstick Traces in the Rainforest: Palm oil, Crisis and Forest Loss in Indonesia – The Role of Germany;
– Kata Pengantar dalam “In Search of Recognition”
– Potret Keadaan Hutan Indonesia/State of the Forest Report
– Ratusan makalah yang disajikan dalam berbagai pertemuan di dalam dan luar negeri.
Sementara, untuk penghargaan, ia telah menerima beberapa penghargaan, antara lain:
– Menghantarkan AMAN sebagai penerima Elinor Ostrom Award 2015.
– Penerima Ramon Magsaysay Award 2017 dalam kategori kepemimpinan masyarakat.
(cr3/tribun-medan.com)
Artikel ini telah tayang di Tribun-Medan.com dengan judul SOSOK Abdon Nababan, Aktivis Berdarah Batak, Penerima Ramon Magsaysay Award 2017, https://medan.tribunnews.com/2023/01/18/sosok-abdon-nababan-aktivis-berdarah-batak-penerima-ramon-magsaysay-award-2017?page=4.
Penulis: Maurits Pardosi | Editor: Ayu Prasandi
